Halte Terakhir

Ilustrasi minimalis sepasang kekasih di halte bus saat hujan, menciptakan suasana romantis, melankolis, dan penuh nostalgia.

Timeline.id - Hujan turun perlahan, merayapi aspal dengan tenang, seolah waktu tahu bahwa ini bukan hari yang layak terburu-buru. Aku duduk di bangku halte, udara dingin menjalar dari permukaan logamnya ke tulang belakangku. Di sampingku, Reza duduk diam. Tangannya menggenggam payung lipat yang tak ia buka. Ia membiarkan air hujan menyentuh rambutnya, seolah ingin membiarkan dunia tahu bahwa ia tidak sedang mencoba menghindar dari apa pun.

Kami berdua menunggu bus yang akan membawaku pergi. Atau mungkin lebih tepatnya, ia menunggu aku berubah pikiran.

Aku bisa merasakan sorot matanya, tapi aku tak menoleh. Sebaliknya, aku menatap genangan air di trotoar yang memantulkan neon toko di seberang jalan. Warna-warna bercampur, merah dari apotek, hijau dari minimarket, kuning dari lampu jalan. Tapi semua itu hanya sebatas pantulan. Seperti aku dan dia—dulu pernah nyata, kini hanya bayangan samar dari sesuatu yang pernah berarti.

“Apa kita harus benar-benar sampai di sini, Ra?” suaranya nyaris tenggelam oleh deru mobil yang lewat.

Aku tidak menjawab segera. Bukan karena tak tahu harus berkata apa, tapi karena aku sudah lelah mengulang jawaban yang sama.

“Aku sudah bilang, Reza. Aku sudah memutuskan.”

Ia menghela napas, pelan tapi panjang, seperti seseorang yang mencoba menarik kembali sesuatu yang sudah terlepas. Aku tahu ia ingin bicara lebih banyak. Tapi aku juga tahu, tidak ada gunanya.

Kami sudah melewati fase pembicaraan panjang, perdebatan berulang yang hanya berujung pada kesadaran bahwa kami tidak bisa lagi memperbaiki yang sudah rusak. Yang tersisa hanyalah momen ini—momen terakhir sebelum perpisahan benar-benar menjadi nyata.

Aku menyelipkan tanganku ke dalam saku jaket, merasakan kertas tiket bus di sana. Ada sesuatu yang aneh tentang perasaan memiliki tiket untuk pergi dari seseorang yang pernah menjadi pusat duniamu. Rasanya seperti memiliki kunci untuk sebuah pintu yang seharusnya tidak perlu dibuka.

Hujan semakin deras. Butiran air mulai memercik ke kaki kami, tapi tak satu pun dari kami bergerak untuk menghindar. Kami hanya duduk di sana, membiarkan dingin menyelusup masuk, seolah itu hukuman yang pantas kami terima.

Aku mendengar Reza menarik napas lagi, tapi kali ini lebih pendek. Lalu, tanpa peringatan, ia tertawa.

Aku menoleh. Bukan karena aku ingin, tapi karena aku terkejut.

“Kau tahu,” katanya, masih dengan tawa yang terdengar getir, “aku selalu berpikir kalau hujan adalah pertanda baik buat kita.”

Aku menatapnya, bingung. “Kenapa?”

“Karena kita bertemu saat hujan pertama kali turun di bulan Desember.” Ia mengangkat wajahnya ke langit, membiarkan air hujan menetes di pipinya. “Waktu itu, aku yakin hujan selalu membawa keberuntungan buat kita. Tapi sekarang…”

Aku menunggu kelanjutan kalimatnya, tapi ia hanya menggeleng dan tersenyum kecil.

Aku ingat hujan pertama yang ia maksud. Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Aku tak sengaja menumpahkan kopi ke jaketnya, dan sebagai gantinya, ia membelikan aku secangkir latte sebagai bentuk ‘denda’. Kami berbincang selama berjam-jam hari itu, hingga tanpa sadar, hujan telah berhenti dan jalanan berubah menjadi pantulan lampu-lampu kota yang basah.

Itu adalah awal dari segalanya.

Dan sekarang, hujan yang sama yang dulu menyatukan kami kini menjadi saksi perpisahan kami.

Aku ingin berkata sesuatu. Mungkin sesuatu yang bisa meredakan kesedihannya, atau setidaknya, membuatnya tahu bahwa aku pun merasa sakit. Tapi tidak ada kata-kata yang cukup. Jadi aku hanya menunduk, menggigit bibir, dan menunggu bus itu datang.

Reza menghela napas lagi. “Kau masih ingat pertanyaan yang dulu pernah aku tanyakan padamu?”

Aku tidak menjawab.

“Kalau kita bisa kembali ke satu hari di masa lalu, kau ingin kembali ke hari apa?”

Aku masih ingat pertanyaannya. Saat itu, aku tertawa dan berkata bahwa aku ingin kembali ke hari ketika aku menemukan restoran ramen terbaik di kota ini. Tapi sekarang, aku tidak bisa menjawab dengan ringan seperti dulu.

Aku tahu apa jawabanku.

Hari itu. Hari di kedai kopi. Hari di mana semuanya masih belum dimulai, dan dengan demikian, masih belum ada akhir.

Namun aku tidak mengatakannya. Karena mengatakan itu hanya akan membuatnya lebih sulit.

Akhirnya, cahaya lampu bus mulai terlihat dari kejauhan. Aku menggenggam erat tiket dalam sakuku, merasakan ujung kertasnya yang lembut. Ini dia. Waktu kita sudah habis.

Reza menoleh ke arah bus yang mendekat. Ia tidak berkata apa-apa, tapi aku bisa melihat sesuatu di matanya yang membuat dadaku sesak.

“Aku akan tetap di sini sebentar,” katanya pelan. “Menunggu hujan reda.”

Aku mengangguk, meski aku tahu hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Saat bus berhenti di depan halte, pintunya terbuka dengan suara decitan ringan. Aku berdiri, menarik napas panjang.

Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum pergi. Aku ingin memberinya sesuatu yang bisa ia simpan, meskipun hanya kata-kata.

Tapi pada akhirnya, aku hanya menatapnya sebentar, lalu melangkah naik ke dalam bus.

Ketika pintu tertutup, aku melihatnya untuk terakhir kali. Ia masih duduk di sana, basah kuyup, matanya menatap ke jalan yang mulai berkabut oleh hujan.

Bus mulai bergerak. Aku tidak menoleh lagi.

Dan seperti itu, aku pergi.

Tanpa payung. Tanpa kata perpisahan.

Hanya hujan yang tersisa di halte terakhir.

Post a Comment

Previous Post Next Post