Timeline.id - Langit Jakarta menggantung kelabu sore itu, seperti sebuah layar bioskop raksasa yang menayangkan adegan sendu tanpa dialog. Aku, Dimas, baru saja selesai berbenah kamar setelah sekian lama dibiarkan menjadi museum kecil dari kehidupan yang pernah kulalui. Dalam tumpukan buku, kabel-kabel charger, dan kaset-kaset lama yang hampir sepenuhnya terkubur debu, aku menemukan sebuah iPod klasik berwarna perak. Retak kecil di sudutnya seperti luka kecil yang menandai betapa panjangnya perjalanan perangkat itu bersamaku.
Aku menatap benda itu lama, seolah ia berbicara dalam bahasa yang hanya aku yang mengerti. Saat jemariku menyentuh tombol bulat di tengahnya, aku merasa seperti menyentuh pintu menuju kenangan yang terkunci selama bertahun-tahun. Baterainya tentu sudah mati, tetapi keinginan untuk menghidupkannya begitu kuat. Aku mencolokkan kabel charger yang masih kusimpan entah kenapa, lalu menunggu layar kecilnya menyala.
Dan ketika akhirnya layar itu menyala, muncul tulisan familiar: “Playlist: Untuk Nadira.”
Jantungku seakan berhenti sesaat. Nama itu, Nadira, adalah nama yang telah kuhindari selama hampir satu dekade. Nama yang dulu memenuhi hidupku seperti lagu yang terus-menerus terputar di kepala. Nama yang sekarang terasa asing, sekaligus menyakitkan, seperti sebuah luka lama yang kembali terbuka.
Playlist itu, aku ingat, adalah kumpulan lagu yang kubuat untuknya saat kami masih bersama. Saat malam-malam panjang diisi obrolan tanpa henti tentang mimpi-mimpi kami, atau tentang film-film indie yang hanya kami berdua tahu. Lagu-lagu itu adalah soundtrack kisah kami, setiap liriknya adalah memoar dari momen-momen kecil yang terasa abadi.
Aku menekan tombol play. Lagu pertama yang terdengar adalah “First Day of My Life” dari Bright Eyes. Suara gitar akustik yang sederhana itu seperti mengundang kembali gambar-gambar lama di kepalaku: Nadira duduk di bangku taman dengan senyum tipisnya, rambut hitamnya yang panjang berayun tertiup angin, matanya yang selalu terlihat seperti menyimpan rahasia kecil yang hanya aku yang boleh tahu. Lagu itu adalah lagu pertama yang kami dengarkan bersama, di sebuah kafe kecil di bilangan Kemang. Aku ingat bagaimana ia menggenggam tanganku saat itu, tanpa berkata apa-apa, tetapi aku tahu dari caranya menatapku bahwa kami sedang jatuh cinta.
Lagu berikutnya, “Banana Pancakes” dari Jack Johnson, membawa ingatanku pada pagi-pagi hujan di mana kami memilih untuk tetap di rumah, memasak sarapan bersama meskipun masakan kami lebih sering gagal daripada berhasil. Nadira selalu tertawa, menyebut eksperimen dapur kami sebagai "petualangan kuliner." Aku masih bisa mendengar tawanya yang renyah, suara yang lebih menenangkan daripada hujan di luar jendela.
Aku terhenti di lagu ketiga. “Gravity” dari Sara Bareilles. Lagu ini, lebih dari yang lainnya, adalah pengingat akan akhir dari segalanya. Lagu ini adalah lagu terakhir yang kami dengarkan bersama, di malam yang dipenuhi keheningan yang tak terucapkan. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia hanya menatap ke arah jendela, memperhatikan hujan yang turun deras. “Kita nggak bisa terus begini, Mas,” katanya akhirnya, suaranya hampir tenggelam dalam suara hujan. “Mimpi kita terlalu berbeda. Dan aku nggak tahu apakah aku bisa terus mengikuti ritme ini.”
Aku tak menjawab saat itu. Mungkin karena aku terlalu takut. Atau terlalu bodoh untuk mengerti apa yang ia maksudkan. Yang aku tahu, malam itu adalah malam terakhir aku melihat Nadira.
Aku menekan tombol pause dan menatap layar iPod itu. Playlist itu adalah fragmen hidup yang tidak pernah benar-benar selesai, sebuah cerita yang terpotong di tengah-tengah, tanpa resolusi. Dan sekarang, di tengah kesunyian kamarku, aku bertanya-tanya: Apa kabar Nadira? Apakah ia pernah mendengarkan lagi lagu-lagu ini? Apakah ia pernah merindukan aku seperti aku merindukan dia saat ini?
Aku memutuskan untuk tidak menyerah pada rasa penasaran itu. Aku membuka ponselku dan mencari namanya di media sosial. Tentu saja, ia ada di sana, tetapi kehidupannya sekarang adalah dunia yang tidak lagi aku kenali. Foto-foto pernikahannya, perjalanan ke luar negeri, dan wajah seorang anak kecil yang sangat mirip dengannya. Aku tersenyum pahit. Waktu memang tidak pernah menunggu siapa pun.
Namun, playlist itu masih bermain di latar belakang, mengisi ruangan dengan melodi yang membuatku merasa sekaligus hidup dan hancur. Lagu terakhir di playlist itu adalah lagu yang aku tambahkan tanpa memberitahunya, “Don’t Think Twice, It’s All Right” dari Bob Dylan. Lagu ini adalah semacam doa untuk diriku sendiri, sebuah pengingat bahwa hidup harus terus berjalan meskipun aku harus kehilangan seseorang yang begitu berarti.
Ketika lagu itu selesai, aku menutup iPod itu dan meletakkannya kembali di laci, di antara benda-benda lain yang menyimpan kenangan. Playlist itu telah menyelesaikan tugasnya. Ia tidak lagi menjadi pengingat dari apa yang hilang, tetapi menjadi bagian dari diriku yang telah membentuk siapa aku hari ini.
Langit di luar mulai gelap, tetapi tidak lagi terasa menekan. Aku mengambil jaket dan memutuskan untuk keluar. Mungkin ini saatnya membuat playlist baru, untuk kehidupan yang masih panjang di depan.
Post a Comment